Blog Fikih Islam

Catatan Fikih, Ushul, dan Turats Pesantren

HIKAYAH ISTIGHFAR KUNCI SUKSES


Hasan Al-Bashri, salah seorang ulama tabiin, suatu ketika didatangi oleh seseorang yang mengadukan tentang daerahnya yang kering kerontang dan tidak mendapat hujan. Maka, ia berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah." Kemudian, datanglah pula seseorang mengadukan tentang kemiskinannya Ia pun berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah". Tak lama kemudian datang pula seseorang minta didoakan agar dikaruniai anak. Imam Hasan Al-Bashri pun menyuruhnya supaya beristighfar. Kemudian datang lagi yang lain mengadukan tentang kebunnya yang tandus, beliau pun memintanya supaya beristighfar pula.

Hal ini membuat para sahabatnya menjadi penasaran dengan jawaban yang beliau berikan dan menanyakannya mengapa semua perkara tadi solusinya hanya satu, yaitu istighfar? Beliau pun menjawab, "Saya tidak mengatakan semua itu secara asal-asalan. 
Tetapi, berdasarkan firman Allah dalam surat Nuh ayat 10-12.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ  وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا(12)

Artinya: Maka aku katakan kepada mereka; Mohonlah ampun kepada Robbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai".
(QS Nuh: 10-12)

Begitulah kejelian seorang ulama yang tidak memandang satu persoalan dari sisi kulitnya saja, melainkan tertuju pada akar persoalan sebagaimana yang dibimbing oleh wahyu ilahi. Bandingkan dengan orang-orang pada zaman sekarang yang hanya mengedepankan rasio saja dalam menganalisis masalah. Bila negerinya tertimpa bencana apakah itu kekeringan, kebakaran, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, hama tanaman, dan lain sebagainya mereka tidak segera berpikir bahwa semua itu tidak lain adalah akibat dari dosa-dosa yang dilakukannya.

Kerangka berpikir yang salah seperti inilah yang kemudian memunculkan kesalahan dalam mengambil solusi dari
bencana yang menimpa. Padahal, Allah telah berfirman
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (السورى: 30(
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)".
(QS As-Syuro: 30)
Akhirnya, mereka hanya mengandalkan kekuatan otak dan materi belaka dalam menyelesaikan persoalan, sementara istighfar dalam arti sebenarnya yaitu mengikhlaskan niat kepada Allah dan menghentikan perbuatan-perbuatan dosa, yang merupakan bagian asasi dari solusi permasalahan, tidak pernah tersentuh dalam pembicaraan apalagi sampai diamalkan. Kalau boleh dikatakan, hari ini kita adalah orang-orang yang melalaikan istighfar. Padahal, kalau melihat kondisi yang ada, sudah selayaknya kita lebih membutuhkan istighfar karena tingkat kemaksiatan hari ini sangat jauh berlipat ganda. Hari-hari kita senantiasa diisi dengan dosa.

Wallalohu a’lam..



SUARA DENGUNG PADA TELINGA


·        Apa yang terjadi ketika suara ngiiing pada telinga?
Dalam filosofi jawa dengung pada telinga, ada yang mengartikan akan ada hal yang besar telah terjadi atau akan terjadi. Ternyata setelah kami baca-baca kitab menemukan keterangan yang searah dengan filosofi jawa tersebut, Bahkan keterangan dalam kitab tersebut merujuk pada sebuah hadits Rosululloh SAW. ternyata setelah saya buka buka buku SOLUSI Problematika Aktual HUKUM ISLAM (Keputusan Mu’tamar, Munas, dan Kongres NU thun 1926-2004) Hal: 169 disana juga terdapat keterangan yang senada:
قال النبي صل الله عليه وسلم: إذا ظنّت أذن أحدكم فليذكرني وليصلّ عليّ وليقل ذكر الله من ذكرني بخير.
Sabda Rosululloh (semoga sholawat dan salam atasnya):  Ktika salah seorang dari kalian telinganya berdengung, maka hendaknya dia mengingatku (Rosululloh) dan membaca sholawat atasku serta berdoa: dhakarollohu man dzakaroni khoiron (Alloh akan mengingatkan yang mengingatku dengan kebaikan.
·        Imam Al-Manawi (semoga Alloh meridloi-nya)dalam kitab Azizi ‘ala jamiusshoghir, berkomentar tentang Hadits tersebut diatas:
قال المناوي فإن الأذن إنما تظنّ لمّــا ورد على الروح من الخبر الخير وهو أنّ المصطفى صل الله عليه وسلم قد ذكر ذالك الإنسان بخير في الملاء الأعلى في عالم الأرواح.
(االعزيز على جميع الصغير)
Al-Imam Al-Manawi (semoga ridlo Alloh atasnya) berkata: sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika terdengar berita baik ke-ruhh, bahwa Rosululloh (semoga sholawat dan salam atasnya) telah menyebutkan bahwa pemilik telinga tersebut dengan kebaikan diAl-Ma’la_ (alam ruh).
·        Kesimpulan; ketika terdengar suara ngiingg pada telinga disunahkan membaca sholawat dan doa:
ذكر الله من ذكرني بخير
Dhakarollohu man dzakaroni khoiron
Semoga bermanfaat...

  

PENYAKITKU TEMPAT MELEBUR DOSAKU


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام علي سيدنا محمد صلي الله عليه وأله ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين.
قال الله تعالى في كتابه العزيز الحكيم : من يعمل سوءا يجزبه..... الأية (النساء :123)
Man ya’mal su_an yujza bihi.... A-Ayah  (Q,S Annisa’: 123)
Barang siapa mengerakan suatu amal keburukan, maka baginya balasan dari apa yang diperbuatnya. (al-qur’an).

حديثنا أبوا اليمــان الحكيم بن نافع أنا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير أن عائشة رضي الله عنهاقالت: قال رسول الله صلى الله عليه وأله وسلم: ما من مصيبة تصيب المسلم الّا كفار الله بها عنه, حتى الشوكت يشاكها
TSRXأخرخه البخاري من رقم:
Dalam hadits Riwat Imam Bukhori dijelaskan, bahwa St Aisyah RA berkata, bersabda Rosululloh SAW: Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang Muslim, kecuali.. Alloh Ta’ala melebur atasanya dosa-dosanya. Sehingga menimbulkan rasa rindu untuk ditimpa suatu musibah (HR Bukhori).

·       Penyakit
Secara pengetian, kita sangat faham dengan apa itu yang dinamakan penyakit, karena kita sebagaimana manusia semestinya yang tidak mungkin bisa dipungkiri pasti pernah merasakannya. Macam-macam  penyakit ada 2macam pertama; penyakit dhohir (penyakit badan) dan penyakit Hati, sebagaiman termaktub dalam kitabullh “fi_qulu_bihim Marodun fazadahumullohu marodo(QS Al-Baqoroh:10)_” dalam hati mereka terdapat penyakit hati lalu Alloh ta’ala menambahkan penyakit hati mereka (orang kafir)... (Al-Ayah). Akan tetapi kali ini kita hanya membahas tentang penyakit dhohir (penyakit badan) yang menimpa seorang muslim saja.

·       Penyakit seorang muslim adalah tempat melebur dosa-dosanya.
Firman Alloh ta’ala “Man ya’mal su_an yujza bihi”potongan (Q.S An-Nisa’:123) diatas, Al-Karmani mengomentarinya; ayat tersebut adalah Umum, maknanya setiap orang yang melakukan suatu amal buruk pasti hukum karma baginya. Kemudia Ibnu Munir berkata: Ayat tersebut maksudnya “bahwa setiap penyakit akan menggugurkan tiap-tiap dosa (kesalahan)” oleh karenanya sebagai seorang mukmin wajib percaya bahwa semua penyakit yang menimpa seorang hamba, semua itu tidak jauh dari titahnya.
Pendapat Ibnu Munir tersebut diatas juga merujuk pada riwayat dari sahabat Hasan dan Zaid RodliAlloh anhuma yang dinuqil oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam sarah Hadits Bukhori, bahwa QS Annisa’:123  tersebut diatas dikhususkan pada pembahasan “kafarat dari kesalahan (dosa)” kemudian dikuatkan oleh hadits tersebut tersebut diatas.
Lebih jelasnya lagi merujuk pada “asbabun nuzul ayat yang saya nuqil diatas”(QS.An-nisa’:123).  Dari Riwayat Imam Ahmad dan dinyatakan riwayat yang Shohih Oleh Ibnu Hibban yang mengambil riwayat dari Ubaidah Bin Amir dari A’isyah RodliAllohu anha  “ada seorang lelaki, ketika membaca ayat (man ya’mal su_an yujza bihi) lalu berkata pada dirinya sendiri “sesungguhnya kita akan dibalas dari perbuatan kita, aduh sungguh kerusakan bagi diri kita.....! kemudian datang Rosululloh sraya bersabda :Na’am...ya benar, orang yang melakukan amal kemaksiatan akan dibalas didunia dengan perkata yang menimpanya (sebagai kafarat peleburan dosanya).
Dalam riwayat Imam Ahmad yang lain dan juga dishohihkan Oleh Ibnu Hibban dikatakan:
Suatu ketika Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Rosululloh : Ya..... Rosululloh bagaimana mengamalkan  ayat ini
من يعمل سوءا يجزبه..... الأية?”
Artinya; Barang siapa melakukan amal kesalahan akan mendapatkan balasan dari perbuatannya.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ وَأَصْحَابُكَ المُؤْمِنُونَ ، فَتُجْزَوْنَ بِهِ فيِ الدُّنْيَا ، حَتَّى تَلْقُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَتْ لَكُمْ ذُنُوبٌ ، وَأَمَّا الْآخَرُونَ فَيُؤخَّرُ ذَلِكَ لَهُمْ حَتَّى يُجْزَوْا بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
Kemudian Rosululloh SAW bersabda: Engkau wahai Abu Bakar... dan saudara-saudaramu yang beriman (kesalahnnya) dibalas didunia, sehingga ketika sudah bertemu Alloh ta’ala kalian semua sudah tidak terbebani dengan dosa kalian. Adapun yang lain (orang yang tdk beriman) dibalas (dengan siksaan) diakhirat.
KESIMPULAN
·       Tetep sabar dalam musibah yang diberikan oleh Alloh ta’ala.
·       Dalam keadaan sakit tetep sunah untuk berobat kpda dokter.
·       Selalu menjaga husnudzon kepada Alloh ta’ala.

NASAB ROSULULLOH SAW


Nasab Rosululloh SAW

Abu Muhammad Abdullah Al-Malik bih Hisyam berkata:


Muhammad Rosulullah SAW adalah putra dari Abdullah putra Abdul Muthalib, adapun nama Abdul Muthalib adalah Syaibah putra dari Hasyim, nama Hasyim adalah Amru putra dari Abdu Manaf, nama Abdu Manaf adalah Al-Mughirah putra dari Qushoyy, adapun nama Qushoyy adalah Zaid putra dari Kilab putra dari Murah putranya Ka’b putra Luayy putra Gholib putra Fihr putra Malik putra An-Nadr putra Kinanah putra Khuzaimah putra Mudrikah, nama asli Mudrikah adalah Amir putra Ilyas putra Mudhor putra Nizar putra Ma’ad putra Adnan bin Udd putra Muqowwim putra Nahur putra Tairah putra Ya’rub putra Yasyjubb putra Nabd putra Ismail (a'laihi salam) putra Ibrohim (Al-Kholilur-rohman) putra Tarih, Tarih adalah Azar putra Nahur putra Sarugh putra Rou’ putra Falakh putra A’ibara putra Syalakh putra Arfakhsyadz putra Sam putra Nuh (a’laihi salam) putra Lamk putra Mattawsyalakh putra Akhnukh, Akhnukh adalah Idris (a’alihi salam) putra Yard putra Mahlail putra Qainah putra Yanisya putra Syits putra Adam (a’laihi salam).


Sumber ; Sirah Nabawiyah Ibnu Hasyim, hal : 7

SUAMI ST KHODIJAH SEBELUM ROSULULLOH


Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam Khadijah ra pernah menikah dua kali, yang pertama dengan ‘Atiiq Bin Abdillah Bin Makhzuum dan yang kedua dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy.

وكانت قبله تحت عائذ بن عبد الله بن مخزوم فمات عنها فتزوجها بعده أبو هالة بن زرارة التميمي، ثم مات عنها ثم تزوجها رسول الله بعد أن أبدت له رضي الله عنها رغبتها في الزواج به
Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Aaid Bin Abdillah Bin Makhzuum, setelah ia meninggal, Khadijah menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah at-Tamimy, setelah ia meninggal, Khadijah dinikahi oleh Rasulullah SAW setelah Khadijah menuturkan keinginannya untuk diperisteri oleh Nabi Muhammad SAW.
Arwa’ al-Qaim al-Hadhriyyah Fii Sayrah I/6
وكانت قبله عند عتيق بن عابد بن عبدالله بن عمر بن مخزوم وأمها فاطمة بنت زائدة بن الأصم بن رواحة بن حجر بن معيص بن لؤي فولدت لعتيق جارية ثم توفي عنها وخلف عليها أبو هالة بن زرارة بن نباش بن زرارة بن حبيب بن سلامة بن غذي بن جروة بن أسيد بن عمرو بن تميم وهو في بني عبدالدار بن قصي فولدت لأبي هالة هند بن أبي هالة ثم توفي عنها فخلف عليها رسول الله وعندها ابن أبي هالة هند فولدت لرسول الله ثمانية القاسم والطيب والطاهر وعبدالله وزينب ورقية وأم كلثوم وفاطمة 

Adalah Khadijah sebelum dinikahi baginda Nabi berada dalam pernikahan ‘Atiiq Bin ‘Aabid Bin ‘Abdillah Bin Amr Bin Makhzuum, Ibunya Fathimah Binti Zaaidah Bin Asham Bin Rawaahah Bin Hajar Bin Mu’iish Bin Luay. Bersama ‘Atiiq beliau dikaruniai puteri yang kemudian meninggal dunia.Setelah ‘Atiiq meninggal dunia, beliau menikah dengan Abu Haalah Bin Zaraarah Bin Nabbaas Bin Zaraarah Bin Habiib Bin Salaamah Bin Ghadzy Bin Jarwah Bin Usaid Bin Amr Bin Tamiim yang merupakan keturunan Abd ad-Daar Bin Qushay, pernikahan beliau dengan Halaah dikaruniai putera yang diberi nama Hindun Bin Abu Haalah.Setelah Abu Haalah meninggal, beliau menikah dengan Rasulullah SAW dengan membawa Hindun Bin Abu Haalah bersamanya, pernikahan beliau bersama Nabi dikaruniai delapan putera yaitu : Al-Qaasim, at-Thoyyib, at-Thoohir, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fathimah az-zahraa.
Taarikh at-Thobry II/211
Wallahu A'lamu Bis showaab.


PENGAJIAN BADA'I DZUHUR