Blog Fikih Islam

Catatan Fikih, Ushul, dan Turats Pesantren

KITAB SHALAT

Pengertian shalat secara estimologi bahasa, adalah; doa. Sedangkan menurut istilah syar’i, shalat adalah; suatu ucapan dan perbuatan tertentu, yang diawali dengan bacaan takbir, dan diakhiri dengan salam.
Shalat Fardlu & Waktu-nya
اَلْمَكْتُوْبَاتُ خَمْسٌ: اَلظُّهْرُ، وَأَوَّلُ وَقْتِهِ: زَوَالُ الشَّمْسِ، وَآخِرُهُ مَصِيْرُ ظِلِّ الشَّيْءِ مِثْلَهُ سِوَى ظِلِّ اسْتِوَاءِ الشَّمْسِ، وَهُوَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ، وَيَبْقَى حَتَّى تَغْرُبَ، وَالْاِخْتِيَارُ: أَنْ لَا تُؤَخَّرَ عَنْ مَصِيْرِ الظِّلِّ مِثْلَيْنِ.
وَالْمَغْرِبُ: بِالْغُرُوْبِ، وَيَبْقَى حَتَّى يَغِيْبَ الشَّفَقُ الْأَحْمَرُ فِي الْقَدِيْمِ، وَفِي الْجَدِيْدِ: يَنْقَضِيْ بِمُضِيِّ قَدْرَ وُضُوْءٍ، وَسَتْرِ عَوْرَةٍ، وَأَذَانٍ، وَإِقَامَةٍ، وَخَمْسِ رَكَعَاتٍ، وَلَوْ شَرَعَ فِي الْوَقْت وَمَدَّ حَتَّى غَابَ الشَّفَقُ الْأَحْمَرَ جَازَ عَلَى الصَّحِيْحِ.
قُلْتُ: اَلْقَدِيْمُ أَظْهَرُ، وَاللهُ أَعْلَمَ
وَالْعِشَاءُ: بِمَغِيْبِ الشَّفَقِ، وَيَبْقَى إِلَى الْفَجْرِ، وَالْاِخْتِيَارُ: أَنْ لَا تُؤَخَّرَ عَنْ ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَفِيْ قَوْلٍ: نِصْفِهِ.
وَالصُّبْحُ: بِالْفَجْرِ الصَّادِقِ، وَهُوَ الْمُنْتَشِرُ ضَوْؤُهُ مُعْتَرِضًا بِالْأُفُقِ، وَيَبْقَى حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَالْاِخْتِيَارِ أَنْ لَا تُؤَخَّرَ عَنِ الْإِسْفَارِ.
قُلْتُ: يُكْرَهُ تَسْمِيَةَ الْمَغْرِبَ: عِشَاءً، وَالْعِشَاءُ: عَتَمَةً، وَالنَّوْمُ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيْثُ بَعْدَهَا إِلَّا فِيْ خَيْرٍ، وَاللهُ أَعْلَمُ.
Shalat yang diwajibkan (fardlu ‘ain), dalam sehari semalam adalah lima waktu, yaitu;
a.       Shalat Dzuhur.
Awal waktu Shalat Dzuhur, adalah; setelah tergelincir-nya matahari, dan akhir waktu Shalat Dzuhur, adalah;   terjadi-nya bayangan suatu benda sama panjang dengan benda asli-nya.
b.      Shalat Ashar.
Tejadi-nya bayangan suatu benda, sama panjang dengan benda asli-nya, adalah awal waktu Shalat Ashar, dan tetap (dalam waktu Shalat Ashar), sehingga matahari terbenam. Sedangkan waktu ikhtiyar adalah; sehingga tidak meng-akhir-kan, sampai terjadi-nya bayangan suatu benda, dua kali panjang benda asli-nya.
c.       Shalat Maghrib.
Waktu Shalat Maghrib, adalah; dimulai dari terbenam-nya matahari, dan tetap dalam waktu Shalat Maghrib, sehingga hilang-nya mega merah, sebagaimana dikatakan dalam qaul al-Qadim, sedangkan menurut qaul al-Jadid; (lama-nya waktu shalat maghrib) adalah; mencukupi kadar-kira-nya waktu untuk berwudlu, menutup aurat, Adzan, Iqamat, dan Shalat lima rakaat. Sehingga jika seseorang bergegas dalam waktu tersebut, dan memanjangkan (= meng-akhir-kan) waktu Shalat Maghrib, sehingga melakukan Shalat Maghrib, pada waktu hilang-nya mega merah, maka diperbolehkan menurut pendapat yang shahih/ benar.
Menurutku; pendapat yang diungkapkan dalam qaul qadim, adalah pendapat yang masyhur (populer). Wallahu a’lam.
d.      Shalat Isya’.
Waktu Shalat Isya’, adalah; dimulai dari hilang-nya menga merah, dan tetap dalam waktu Shalat Isya’, sampai terbit-nya fajar shadiq. Sedangkan waktu Ikhtiyar, adalah; tidak meng-akhir-kan sampai sepertiga malam, dalam hal ini ada pendapat yang mengatakan; dalam waktu ikhtiyar sampai separo malam.
e.       Shalat Subuh.
Waktu Shalat Subuh, adalah dimulai dari terbit-nya fajar shadiq, yaitu; diisaratkan dengan jelas-nya cahaya fajar diufuk timur, dan tetap dalam waktu Shalat Subuh, sehingga terbit-nya matahari. Dan waktu ikhtiyar, adalah; sehingga tidak meng-akhir-kan sampai waktu safar (yaitu; cahaya matahari yang nampak remang, sehingga menjadikan orang yang melihat dari jarak yang dekat nampak jelas).

Menurutku;  dimakruhkan mengatakan Shalat Maghrib, dengan sebutan Shalat Isya’, dan mengatakan Shalat ‘Isya’ dengan sebutan ‘atamah, dan dimakruhkan juga, tidur sebelum Shalat Isya’ dan bercakap-cakap setelah-nya, kecuali obrolan dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

NGAJI GHOYAH WA AT-TAQRIB


BAB SHOLAT BAGIAN KE- I

الصلاة المفروضة خمس الظهر وأول وقتها زوال وقتها زوال الشمس وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد الزوال والعصر وأول وقتها الزيادة على ظل المثل وآخره في الاختيار إلى ظل المثلين وفي الجواز إلى غروب الشمس والمغرب ووقتها واحد وهو غروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلي خمس ركعات والعشاء أول وقتها إذا غاب الشفق الأحمر وآخره في الاختيار إلى ثلث الليل وفي الجواز إلى طلوع الفجر الثاني والصبح وأول وقتها طلوع الفجر الثاني وآخره في الاختيار إلى الأسفار وفي الجواز إلى طلوع الشمس
(غاية والتقريب)

Sholat yang diwajibkan dalam syariat agama islam adalah sholat lima waktu, yaitu:
  1. Sholat Dzuhur, adapun waktu pelaksanaannya mulai dari zawal-nya matahari artinya matahari melebihi batas tepat diatas kita sampai bayangan pada benda lebih panjang dari asal bendanya.
  2. Sholat Ashar, adapun waktu pelaksanaannya mulai dari ketika bayangan pada benda lebih panjang dari asalnya dan batasan waktu akhirnya, ketika dalam keadaan Ikhtiar (memilih) sampai pada waktu bayangan dari benda dua kali lipat dari benda asalnya, dan sampai pada ghurubus syams terbenamnya matahari ketika dalam keadaan tidak bias memilih.
  3. Sholat Magrib, adapun waktu pelaksanaannya cuma satu, yaitu ghurubus syams dengan ukuran seseorang melakukan pekerjaan Adzan, berwudlu, kemudian menutup aurat lalu melaksanakan 5Rakaat sholat.
  4. Sholat Isya’, adapun waktu pelaksaannya mulai dari hilangnya mega merah yang tampak pada langit dan batasan waktu akhirnya ketika dalam keadaan ikhtiyar (memilih) sampai pada 1/3malam dan sampai waktu menyisingnya waktu fajar ketika tidak dalam keadaan ikhtiar (memilih).
  5. Sholat Subuh, adapun waktu pelaksaannya mulai menyisingnya fajar yang ke-II dan batasan waktu akhirnya ketika dalam keadaan Ikhtiar (memilih) sampai pada waktu ashfar (waktu tampaknya pandangan oleh awal kali pertama cahaya matahari) dan sampai pada waktu terbitnya matahari ketika tidak dalam keadaan ikhtiar (memilih).
KETERANGAN
· Kewajiban melaksanakan fardu Sholat ada 3Macam:
1. Fardu ain bis syar’i yaitu sholat lima waktu sebagaimana sudah kita bahas penetapan waktu pelaksanaannya diatas.
2. Fardu ain bin nadr yaitu diwajibkan kepada orang yang bernadzar untuk melaksanakan sholat.
3. Fardu kifayah yaitu tidak akan gugur kewajibannya ketika suatu kampung tidak ada seorangpun yang mengerjakannya yaitu sholat jenazah.
· Sejarah dari kali pertama perintah sholat lima waktu adalah ketika Isro’ mi’raj.
· Kesepakatan Ulama’ sholat Isya’ dikhususkan untuk umat Rasululloh SAW, sedangkan sholat Subuh sebelumnya sudah diwajibkan untuk Nabiulloh Adam ‘alaihi salam, sholat Dzuhur untuk Nabiulloh Ibrahim ‘alaihi salam, sholat Ashar untuk Nabi Sulaiman ‘alaihi salam, dua rakaat Maghrib untuk Nabiulloh Isa ‘alaihi salam dan satu rakaat untuk Umat Nabiulloh Isa ‘alaihi salam.
Waqila ada yang berpendapat bahwa sholat Dzuhur sebelumnya diwajibkan untuk Nabiulloh Daud ‘alaihi salam, sholat Maghrib untuk Nabiulloh Ya’kub ‘alaihi salam, sholat Isya’ Untuk Nabiulloh Yunus ‘alaihi salam dan ada juga yang berpendapat bahwa Sholat Isya’ untuk Nabiulloh Musa ‘alaihimus sholatu wasalam.
Wallhu a’lam bishowaf...
Refrensi :
· Ghoyah Wa al-Fathul Qarib.
· Nihayatuzzain.


MENGQOSHOR & MENJAMA’ SHOLAT


 Bagian ke- II
 B. Menjama’ Sholat
Sebagaimana yang sudah kami sampaikan pada kiriman sebelumnya, Bahwa maksud dari menjama’ sholat artinya mengumpulkan dua sholat pada waktu yang sama. Seperti contoh melaksanaka Sholat Dzuhur pada waktu sholat Ashar atau sebaliknya & melaksanakan sholat Maghrib pada waktu sholat Isya’ atau sebaliknya, dan perlu diketahui bahwa tdk boleh menjama’ sholat jum'ah dengan sholat ashar (dengan jum' ta'khir), sholat ashar dengan sholat maghrib, sholat isya’ dengan sholat subuh dan sholat dzuhur dengan sholat subuh.
Adapun Rujuan ulama’ tentang kebolehan menjama’ sholat berasal dari Hadits Nabi yang dikeluarkan oleh banyak para sahabat termasuk Imam Muslim yang diriwayatkan oleh sahabat nabi Muad bin jabal:
 خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة التابوك فكان يجمع بين الظهر وعصر والمغرب والعشاء فأخرالصلاة يوما ثم خرج فصلى الظهر والعصر جميعا ثم دخل ثم خرج فصلى المغرب والعشاء جميعا.
 Artinya:
Kami keluar bersama Rosululloh SAW ketika perang tabuk kemudian Rosul menjama’ sholat dzuhur dengan ashar dan sholat Maghrib dengan sholat Isya’dengan jama’ ta’khir. Kemudian (pada waktu perang tabuk juga) Rosulululloh SAW sholat dzuhur dan ashar ketika masuk(waktu sholat ashar) dan sholat maghrib dan isya’(dengan jama’ taqdim).
(H.R Muslim no:51-53/ Abu Dawud no: 1208/Ibnu Majah no:107)

 Hadits ini juga dinuqil oleh Al-Imam Taqiyyudin dalam kitab Kifaytul Ahyar Juz:1, Shohifah:207.

 Perlu kita ketahui, bahwa menjama’ sholat ada dua macam:

 B.1.JAMA’ TAQDIM
Kebolehan seorang Musyafir menjama’ sholat (jama’ Taqdim) sbb:
Melaksanakan sholat ashar pada waktu sholat dzuhur, melaksanakan sholat isya’ pada waktu sholat maghrib dan melaksanakan sholat Ashar pada hari jum’at pada waktu sholat jum’at.
(Nihayatu zain sarahu qurrotil a’in juz: 1, Shohifah:8).
Adapun syarat-syarat mendapatkan ruhsoh (keringanan) menjama’ taqdim sholat, Syekh Nawawi menerangkan lebih rinci dalam Nihayatu zain ada 6macam:

1.     Tartib dalam pelaksanaannya, artinya wajib mendahulukan sholat yang awal. Apabila melaksanakan jama’ taqdim dengan mendahulukan sholat yang akhir maka yang sah hanya sholat yang awal saja.
2.     Niat Jama’ pada awal kali sholat.
3.     Al-Muwalah (bergulir) antara sholat yang pertama dengan yang ke-II tdk boleh dipisah dengan sholat yang lain.
4.     Bagi orang yang mempunyai niatan mukim sementara ditengah perjalanan wajib meneruskan perjalanan melebihi 16farsah ( 88Km/80Km/ 64Km/94Km) dan tidak disaratkan adanya wujud kepergiannya pada niat awal kali kepergian (musafir).
5.     Dari awal kali sholat jama’ taqdim wajib yaqin bahwa sholatnya mencukupi untuk kedua sholat yang dijama’, dan apabila sholatnya orang yang menjama’ taqdim tersebut tidak mencukupi untuk sholat yang ke-II maka batal sholatnya yang pertama.
6.     Pada sholat yang ke-II wajib meyakini sahnya sholat yang pertama.

 ويشترط لجمع التقديم ستة شروط: الأوّل: الترتيب بأن يبدأ بصاحبة الوقت لأن الوقت لها فلو عكس الترتيب صحت صاحبة الوقت فقط: الثاني: نية الجمع في الأولى ولو مع التحلل منها. الثالث: الولاء بـين الصلاتين بأن لا يتخلل بـين الصلاتين زمن يسع ركعتين بأخف ممكن وحينئذ لا يجوز أن يصلي الراتبة بـينهما. الرابع: دوام السفر إلى عقد الثانية وإن أقام في أثنائها، ولا يشترط وجود السفر عند عقد الأولى. الخامس: بقاء وقت الأولى يقيناً إلى تمام الثانية فيبطل الجمع والصلاة إذا خرج الوقت في أثناء الثانية أو شك في خروجه. السادس: ظنّ صحة الأولى لتخرج المتحيرة فليس لها جمع التقديم، وكذا لو كانت الأولى جمعة في مكان تعددت فيه لغير حاجة وشك في السبق والمعية، ومثل ذلك كل من تلزمه الإعادة كفاقد الطهورين والمتيمم للبرد أو لفقد الماء بمحل يغلب فيه الوجود أو نحو ذلك.
 (نهاية الزين شرح قرة العين, ج:1,ص:8)

 KETERANGAN
 • Dalam hal no:3 Al-Muwalah (bergulir) antara sholat yang pertama dengan yang ke-II tdk boleh dipisah dengan sholat yang lain juga tidak boleh menyela antara sholat yang awal dengan yang ke-II dengan jarak melebihi 2rakaat sholat. sebagaimana keterangan dalam I’anatut Tholibin sbb:

 قوله بأن كان دون قدر ركعتين ) تصوير للفصل اليسير فهو أن ينقص عما يسع ركعتين بأخف ممكن على الوجه المعتاد فلا يضر الفصل بوضوء ولو مجددا وتيمم وطلب للماء خفيف وزمن أذان وإن لم يكن مطلوبا وزمن إقامة على الوسط المعتدل في ذلك حتى لو فصل بمجموع ذلك لم يضر حيث لم يطل الفصل
 QOULUHU BIAN KA_NA DUNA QODRO ROK'TAINI artinya gambaran (dari memisah antara dua sholat) asalkan dalam waktu yang dikira-kirakan lamanya kurang dari dua rakaat sholat maka tidak dipermasalahkan(LA_YADURR) seperti memisahnya dengan brwudlu walaupun (TAJDIDUL WUDLU') nganyar-nganyari wudlu atau tayamum, mencari air untuk berwudlu atau waktu adzan (saat menjalani shalat kedua dari shalat jama’), waktu iqomah yang kesemuanya dilakukan dalam waktu normal, bahkan bila antara kedua shalat jama’ tersebut dipisah dengan semua perbuatan-perbuatan diatas secara keseluruhan asalkan tidak lama maka tidak berbahaya dan tidak membatalkan sholatnya.
 I’aanah at-Thoolibiin II/103

 • Pelaksanaan jama’ taqdim wajib diluar daerah dimana musafir (orang yang bepergian) tinggal.

 B.2.JAMA’ TA’KHIR.
Jama’ ta’khir adalah melaksanakan dua sholat pada akhir sholat yang dijama’. Perinciannya sbb:

Melaksanakan sholat dzuhur pada waktu sholat ashar, sholat maghrib pada waktu sholat isya’.dan perlu diketahui seperti yang sudah kami sampaikan diatas tidak boleh melaksanakan sholat jum’ah dengan jama’ ta’khir.
(Nihayatu zain sarahu qurrotil a’in juz: 1, Shohifah:8).

 Syarat-syarat melaksanakan jama’ ta’khir ada 2macam, yaitu sbb:
 1) Niat mengakhirkan sholat pada waktu sholat yang pertama(dzuhur & maghrib)
 2) Kepergiannya wajib mencapai dua marhalah/16farsah ( 88Km/80Km/ 64Km/94Km) dan tidak boleh adanya muqim pada tengah-tengah perjalanan.

 KETERANGAN
 • Boleh menqoshor sholat sekaligus menjama’nya.
 • Boleh memilih antara jama’ taqdim atau ta’khir.
 • Istilah 16fasah/2(dua)marhalah dalam ketetapan Imam Syafi’i 48Mill Hasyimiyah.
 والطويل ثمانية وأربعون ميلا هاشمية ، وهو مرحلتان معتدلتان كما سبق
 (شرح سنن مسلم على النواوى)

 • Pendapat Madhab Hanbaliyah boleh menjama’ sholat pada saat musyafir yang memenuhi persyaratan, akan tetapi meninggalkan jama’ sholat lebih utama,
 (يجوز الجمع ) وتركه أفضل ، وعنه : فعله ، اختاره أبو محمد الجوزي وغيره ، كجمعي عرفة ومزدلفة ، وعنه : التوقف ( بين الظهر والعصر والعشاءين في وقت إحداهما ) فهذه الأربع هي التي تجمع في وقت إحداهما ، الظهر والعصر ، والمغرب والعشاء.
 (المبدع في شرح المقنع)

 • Pendapat Madhab Hanafiyah tdk diperbolehkan jama’ sholat (tdk ada rukhsoh) dalam keadaan Musafir, waktu hujan, atau sakit kecuali pada saat ibadah haji.
 وقال أبو حنيفة : لا يجوز الجمع بين الصلاتين بسبب السفر ولا المطر ولا المرض ولا غيرها إلا بين الظهر والعصر بعرفات بسبب النسك ، وبين المغرب والعشاء بمزدلفة بسبب النسك أيضا
 شرح سنن مسلم النواوى

 Keterangan selanjutnya Insy’Alloh akan membahas “boleh menjama’ taqdim ketika ada hujan turun” atau pada saat sakit
 ويجوز الجمع بالمطر في وقت الأولى ، ولا يجوز في وقت الثانية على الأصح لعدم الوثوق باستمراره إلى الثانية.
 (شرح سنن مسلم على النواوى)
 WALLOHU A’LAM BISHOWAF...


NGAJI GHOYAH WATAQRIB

Bab Sholat Bagian ke-II
(فصل) وشرائط وجوب الصلاة ثلاثة أشياء الإسلام والبلوغ والعقل وهو حد التكليف. والصلوات المسنونات خمس العيدان والكسوفان والاستسقاء والسنن التابعة للفرائض سبع عشرة ركعة ركعتا الفجر وأربع قبل الظهر وركعتان بعده وأربع قبل العصر وركعتان بعد المغرب وثلاث بعد العشاء يوتر بواحدة منهن وثلاث نوافل مؤكدات صلاة الليل وصلاة الضحى والتراويح.
(Fasal)
Syarat-syarat dari wajibnya sholat ada 3macam yaitu : (1) Islam. (2) Baligh. (3) Berakal.
Adapun sholat-sholat yang disunahkan ada 5macam: (1) Dua sholat ’aid : Sholat ‘Idul Fitri dan sholat ‘Idul Adha. (2) Sholat Gerhana yaitu Gerhana Matahari dan Bulan. (3) Sholat Istisqo’. (4) Sholat yang waktunya sebelum dan sesudah Sholat Fardu lima waktu, jumlah dari rakaat keseluruhan ada 17rakaat, yaitu dua rakaat sebelum sholat subuh, empat rakaat sebelum sholat dzuhur, dua rakaat sesudah sholat dzuhur, empat rakaat sebelum sholat ashar, dua rakat setelah sholat maghrib, tiga rakaat sesudah isya’yang mana, satu rakaatnya sholat witir.
Sedangkan sholat sunah muakat ada 3macam, yaitu: (1) Sholat tahajut, (2) Sholat Dzuha, (3) sholat tarawih.

KETERANGAN.
  1. Seorang kafir tidak diwajibkan melaksanakan sholat fardu lima waktu, karena tidak terkena taklif hukum islam akan tetapi diakhirat mendapatkan siksa kefasidan ke-imanannya.
  2. Jika seorang kafir masuk islam tidak diwajibkan menggodho sholat yang ditingalkan selama dia baligh sampai dia masuk islam.
  3. Orang yang murtad (pernah masuk islam kemudian pindah agama lain) tetap diwajibkan mengqodho sholat yang ditinggalkan selama dia keluar dari agama Islam.
  4. Orang yang hilang Akal “majnun” tidak diwajibkan sholat, termasuk yang disebabkan kemaksiatan minum-minuman keras.
  5. Orang yang bodoh dari kecil dikarenakan tuna netra atau tuna rungu sehingga mengakibatkan tidak mengetahui hukum syar’i tidak diwajibkan sholat, dan tidak diwajibkan mengqodho sholat yang ditinggalkan ketika suatu saat paham agama dan mengerti hukum syar’i.
  6. Wanita yang Haid dan Nifas haram melaksanakan sholat dan tidak diwajibkan menggodho sholat fardu yang ditinggalkan selama haid dan Nifas.
  7. Wanita yang Istihadloh tetep wajib melaksanakan sholat.
  8. Sholat istisqo’ adalah sholat memohon hujan.
wallohu a'lam

DOA SETELAH SHOLAT MAKTUBAH

الدعاء بعد الصلاة المكبوبة
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
أللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ بِقُدْرَتِكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ, وَتَسْتَخِرُكَ بِكُلِّ شَيْئٍ, يٰأَحَدُ يٰاصَمَدُ يَاوَتْرُ يٰاحَيُّ يٰاقَيُّومُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَنْ تَسْتَخِرُكَ لَنَا الْعِلْمَ الَّذِيْ سَتَرْتَهُ عَلٰى كَثِيْرٍ مِنْ خَلْقِكَ وَأَكْرَمْتَ بِهِ كَثِيْرًا مِنْ عِبَادِكَ يٰاكٰفِى يٰاغَنِيُّ يٰامُغْنِى يٰافَتَّاحُ يٰاهَادِى وَأغْنِنَا بِهِ عَمَّنْ سِوَاكَ إِنَّكَ مٰلِكُ الْمُلْكِ وَبِيَدِكَ مَقَالِدُ السَّمٰوَاتِ وِاْلأَرْضِ وَأَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يٰاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْن؛ رَبَّنَا أٰتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا؛ اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَاْلِإسْتِقَامَةَ وَحُبَّ اللهِ وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّهُ؛ يٰامَنْ لَهُ اْلخَيْرُ كُلَّهُ وَبِيَدِهِ اْلخَيْرُ كُلُّهُ نَسْئَلُكَ الْخَيْرَ كُلَّهَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّهِ؛ فَإِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الْغَنِيُّ الْغَفُوْرُالْحَلِيْمُ؛ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ؛ اَللّٰهُمَّ سَلِّمْنَا مِنْ أٰفَاتِ الدُّنْيَا وَمِنْ فِتْنَتِ هَذِهِ الزَّمٰنِ وَمِنْ عَذَابِ اْلأٰخِرَةِ؛ أَللّٰهُمَّ إِنّٰا نَسْئَلُكَ مِنْ خَيْرِمَا سَئَلَكَ مِنْهُ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّمَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ﷺ؛ أَللّٰهُمَّ إِنّٰا نَسْئَلُكَ بِكُلٍّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ مَا أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَوْ أَعْطَيْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اِسْتَاءْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْﺁٰءنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبَنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَبَصَارِنَا وَجَـﻶٰءَ خُزْنِنَا وَذَهَابَ هَمَّنَا وَغَمِّنَا بَرَحَمْتِكَ يٰاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ؛ رَبَّنَا ﺃٰتِنَا فِي الْدُنْيَاحَسَنَةً وَفِي الْأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النٰارِ؛ يٰاعَلِيُّ يٰاَكِبِيْرُ, يٰاعَلِيْمُ يٰاقَدِيْرُ, يٰاسَمِيْعُ يٰابَصِيْرُ, يٰالَطِيْفُ يٰاخَبِيْرُ, يٰاحَيُّ يٰاقَيُّوْمُ, يٰاعَلِىُّ يٰامٰالِىُّ يٰاوٰافِيُّ يٰاوَلِيُّ يٰاغَنِيُّ يٰامُغْنِيُّ وَصَلّٰى اللهُ عَلٰى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ اْلأُمِّيِّ كٰاشِفِ الْغُمَّةِ  وَعَلىٰ أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَبٰارَكَ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰالمَيِنَ.

SHOLAT SUNAH HAJAT

1.Niat sholat sunah hajat
أُصَلِّى سُنَّةَ لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعٰالٰى
2.Kaifiyah sholat sunah hajat.
Sholat sunah hajat waktunya malam hari, surah yang dibaca setelah membaca Al-fatihah pada rakaat pertama surah Al-Kafirun,3/10X dan pada rakaat ke-II membaca surah Al-Iklas dibaca 3/10X.
Setelah salam sujud istighotsah sekali diawali dengan membaca takbiratul ikhram, niat sujud istighotsah didalam hati.ketika sujud membaca sholawat nabi 10X.
أَللَٰهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ×؛١٠
سُبْحٰنَا اللهَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَﻵ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ هُوَ اللهُ أَكْبَرُ؛×١٠
رَبَّنَا أٰتِنَا مَاسَأَلْنَاكَ؛×١٠
Dalam doa ini hatinya digetarkan, lalu bangun dari sujud dan diakhiri dengan salam sebagaimana salam sholat maktubah.
kemudian membaca sholat Al-fatihah sebanyak17x setiap sampai pada :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ
Dibaca tiga kali tanpa nafas, dan menggetarkan hatinya apa yang diminta.
3.Doa sholat hajat.
ﻵ إلٰهَ إِلاّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ, سُبْحٰانَ الله رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالمَيِنْ, نَسْئَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَغَرَائِمَ مَغْفِرَتِكَ, وَغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ, وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمِ لَاتَدَعْ لَنَا ذَمْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ, وَلَاهَمًّا إِلَّا فَرَجْتَهُ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلّاَ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَٰحِمِيْنَ.
LA_ILAHA ILLALLOHUL HALIMUL KARIM, SUBHA_NALLO_HI ROBBIL ‘ARSYIL ‘DHIM, AL-HAMDULILLA_HI ROBBIL ‘ALAMIN, NAS’ALUKA MUJIBA_TI ROHMATIKA WAGHORO_IMI MAGHFIROTIKA, WAGHONI_MATA MIN KULLI BIRRIN, WASSALAMATA MIN KULLI ITSMIN, LA_TADHA’LANA DHAMBAN ILLA GHOFARTAHU, WALA_HAMMAN ILLA FA FAROJTAHU WALA_HA_JATAN HIYA LAKA RIDHON ILLA QODHITAHA_ YA_ARHAMARROHIMI_N.
“tidak ada tuhan selain Alloh ta’ala yaitu yang maha penyantun lagi maha mulia. Maha suci Alloh ta’ala yang memiliki ‘arsy yang agung, segala puji hanya milik Alloh ta’ala tuhan semesta alam. Ya.. Alloh, kami meminta kepada Engkau denga sifat rohmatmu yang selalu dikabulkan, dan dengan ampunanMu yang selalu meluas yang tidak butuh dengan kebaikan(makhluk) yang  selalu selamat dari dosanya (makhluk). Ya.. Alloh smoga Engkau tidak menghakimi kami pada dosa kami kecuali Engkau sudah mengampuninya, dan kesusahan kecuali Engkau sudah menghilangkannya. Ya Alloh… kami memohon kepada Engkau kebutuhan yang mana engkau meridhoinya, wahai Dzat yang maha   penyayang dari semua penyayang”.
Sebagaiman keterangan dalam kiatab Al-Adhkar An-Nawawi:
روينا في كتاب الترميذي وابن ماجه عن عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنهما قال: قال رسول الله ﷺ : من كانت له حاجةٌ إلى الله تعالى أو إلى أحد من بنى أدم فليتوضأ واليحسن الوضوء, ثم ليصل ركعتين, ثم اليثن على الله عزّ وجلّ وليصل على النبي ﷺ ثم ليقل: ﻵ إله الا الله الحليم الكريم سبحان الله ربّ العرش العظيم, الحمد لله رب العالمين, أسئلك موجببات, وغرائم مغفرتك من كل برّ, والسلامة من كل إثم, لا تدع لي ذمبا الا غفرته, ولا هما إلا فرجته, ولا حاجةهي لك رضا إلا قضيتها ياأرحم الراحمين. قال الترميذي: في سناده مقال. قلت: ويستحب أن يدعوا بدعاء الكرب, وهو : اللهمّ أتنا في الدنيا حسنة وفي الأٰخرة حسنة وقنا عذاب النّار. لما قدمناه عن الصحيحين فيهما.
(الأذكار, ص:٧٦١)
Kami meriwayatkan dari kitab haditsnya Imam Tirmidzi dan Ibn Majah dari (riwayat) Abdulloh bin Ubay Awfa (yang sampai pada Rosululloh ), bahwa Rosululloh Bersabda: barang siapa mempunyai hajat kepada Alloh ta’la atau kepada salah satu dari Bani Adam, maka disunahkan berwudlu lalu menyempurnakan wudlunya, kemudian sholat dua rokaat, lalu berdoa dengan memuji Alloh ta’ala, lalu membaca sholawat atas Nabi , kemudian membaca Doa:
 ﻵ إله الا الله الحليم الكريم سبحان الله ربّ العرش العظيم, الحمد لله رب العالمين, أسئلك موجببات, وغرائم مغفرتك من كل برّ, والسلامة من كل إثم, لا تدع لي ذمبا الا غفرته, ولا هما إلا فرجته, ولا حاجةهي لك رضا إلا قضيتها ياأرحم الراحمين
Imam At-Tirmidzi RA dalam sanad haditsnya mengatakan, membaca doa karb, yaitu:
اللهمّ أتنا في الدنيا حسنة وفي الأٰخرة حسنة وقنا عذاب النّار
Hadits ini juga diterangkan dalam hadits riwayat Al-Imam Bukhori dan Muslim.


WALLOHU A'LAM

MENGQOSHOR & MENJAMA’ SHOLAT


Bagian ke-I

Pengertian mengqoshor dan menjama sholat.
Secara etimologi bahasa QOSHOR artinya meringkas, sedangkan JAMA’ artinya adalah mengumpulkan. Sedangkan menurut istiah syar’i mengqoshor sholat artinya menjadikan sholat 4rakaat menjadi 2rakaat sedangkan menjama’ sholat artinya mengumpulkan dua sholat dilaksanakan pada waktu yang sama seperti contoh melaksanakan sholat dzuhur pada waktu sholat ashar. Sebelum kita masuk pada pembahasan lebih rinci ada baiknya kalaw kita mengetahui sholat yang boleh diqoshor dan sekaligus dijama’ atau sholat yang hanya boleh dijama’ saja.

  1. Sholat fardu yang boleh dijama’ dan sekaligus mengqoshornya yaitu sholat fardu yang jumlahnya 4(empat) rakaat (Dzuhur, Ashar dan Isya’).
  2. Sholat fardu yang bolehnya hanya dijam’ saja (sholat Maghrib).
  3. Sholat fardu yang tidak boleh diqoshor dan dijama’ yaitu sholat Subuh.
A.      Mengqoshor sholat.
Ketika dalam perjalanan musyafir boleh mengqoshor sholat fardu, dan perlu diketahuai bahwa mengqoshor sholat selain yang rakaatnya berjumlah empat rakaat tidak diperbolehkan oleh aturan syar’i.
SYARAT-SYARAT MENDAPATKAN RUKHSHOH QOSHOR SHOLAT
Syarat - syarat boleh mengqoshor sholat ada 12, sebagaimana yang terdapat pada Nihayatu zain Syekh Nawawi AL-banteni:

  1. Sholat yang boleh diqoshor hanya sholat-sholat yang 4 (empat)rakaat saja yaitu Dzuhur, Ashar dan Isya’.
  2. Kepergiannya menempuh jarak 16Farsah/2Marhalah, dalam hal ini para Ulamak berselisih pendapat antara ( 88Km, 80Km, 64Km, 94Km).
  3. Kepergiannya tidak untuk bermaksiat.
  4. Kepergiannya, dinilai baik secara agama ataupun duniawi.
  5. Kepergiannya mempunyai tujuan tempat yang dipastikan.
  6. Tidak diperbolehkan bermakmum pada mushollli yang sholat dengan sempurna (tidak diqoshor) baik sesama musafir atau muqim.
  7. Wajib niat Qoshor sholat dan menyebutkan rakaatnya (rok’ataini).
  8. Wajib menjaga niat Qoshor sholat sampai akhir sholat dan wajib menjaga niat bepergian samapi pada tujuan.
  9. Mengetahui kebolehan Rukhsoh mengqoshor sholat untuk musyafir.
  10. Mengetahui tata cara sholat qoshor.
  11. Pelaksanaan sholat mahallu sholat harus sampai melewati batas tempat muqim (sudah keluar dari daerah pemukimannya).
  12. Pelaksanaan sholat qosor dilaksanakan pada saat perjalanan (tdk pada saat sampai pada tujuan).

ويجوز للمسافر قصر الصلاة بأن يصليها ركعتين بشروط اثنى عشر: أن تكون الصلاة رباعية مكتوبة أصالة مؤداة أو فائتة سفر قصر كالظهر والعصر والعشاء، وأن يكون المسافر في سفر طويل وهو ستة عشر فرسخاً وهي مرحلتان، وأن لا يكون عاصياً بالسفر، وأن يكون سفره لغرض صحيح ديني أو دنيوي، وأن يقصد محلاً معلوماً في أوّل سفره ولو بالجهة، وأن لا يربط صلاته بمن جهل سفره أو بمتمّ ولو في نفس الأمر ولو في جزء من صلاته ولو في صبح، وأن ينوي القصر مع التحرم كأن يقول مقصورة أو ركعتين أو صلاة السفر، وأن يتحرز عن منافي نية القصر في دوام الصلاة ودوام السفر في جميع الصلاة يقيناً، وأن يعلم بجواز القصر، وأن يعلم الكيفية، وأن يجاوز محل الإقامة ويصل إلى محل يعدّ فيه مسافرا
(نهاية الزين النواوي البنتنى)
Tambahan keterangan:
• Pada saat “musafir” (bepergian) yang sudah terpenuhi sarat qoshor maka Jawazu qoshri wal itmam (boleh mengqoshor dan tdk mengqoshor).
• Batasan boleh mengqoshor sholat hanya dalam waktu tiga hari, dan boleh mengqoshor sholat lagi setelah hari ke-5 sampai hari ke-7 dan seterusnya bagi yang bepergian selama lebih dari 3(tiga)hari.
• Apabila kepergian seorang musyafir kurang dari 3hari menurut ketetapan Imam Syafi’i dan ashhabu syafi’i (ulamak pendukung madhab syafi’iyah) : lebih utama qoshor sholat dari pada itmam (tidak mengqoshor sholat).

قال الشافعي والأصحاب : القصر لهذا أفضل بلا خلاف ، بل يكره له الإتمام حتى تزول هذه الكراهة ; وهكذا الحكم في جميع الرخص في هذه الحالة ، وإن كان سفره ثلاثة أيام فصاعدا ، ولم يكن مدمن سفر البحر وغيره ولا يترك القصر رغبة عنه ، فهل الأفضل الإتمام أم القصر ؟ فيه ثلاث طرق ( أصحها ) وبه قطع المصنف وجمهور العراقيين : القصر أفضل
(المجموع شرح المهذب)
• Seseorang yang hidupnya selalu dalam perjalana lebih utama itmamu sholah (tidak mengqoshor sholat).
وخرج بقولنا ولم يختلف فى جواز قصره .من اختلف فى جواز قصره كملاح يسافر فى البحر ومعه عياله فى سفينة ومن يديم السفر مطلقا كالساعى فإن الاتمام افضل له خروجا من خلاف من اوجبه كالإمام احمد رضي الله عنه
Dikecualikan dari penuturan kami (mushannif) dan tidak terjadi perbedaan ulama tentang kebolehan mengqoshor sholat bagi seorang musafi adalah orang yang di perselisihkan ulama tentang kebolehan mengqoshor sholatnya seperti seorang pelaut yang selalu berlayar bersama keluarganya dalam kapal atau orang yang selalu bepergian seperti seorang pengusaha maka menyempurnakan itmamu sholah (tidak mengqoshor) baginya lebih utama agar terhindar dari perbedaan pendapat ulama yang mewajibkan menyempurnakan sholat baginya seperti pendapat Imam Ahmad” (Hasyiyah al-Bajuri I/201)

Wallohu a'lam...

JAMA' TAQDIM YANG DIURUNGKAN KEPERGIANNYA


Sholat Qashar (atau jamak) yang telah ia jalani setelah ia keluar dari batas desanya sebelum ia mengurungkan bepergian tidak wajib ia qadhai.
( ومن قصد سفرا طويلا فسار ثم نوى ) وهو مستقل ماكث ( رجوعا ) عن مقصده إلى وطنه أو غيره للإقامة ( انقطع ) سفره سواء أرجع أم لا لأن النية التي استفاد بها الترخص قد انقطعت وانتهى سفره فلا يقصر ما دام في ذلك المنزل كما جزموا به لكن مفهوم كلام الحاوي الصغير ومن تبعه أنه 
يقصر وهو خلاف المنقول ولا يقضي ما قصره أو جمعه قبل هذه النية وإن قصرت المسافة قبلها

“Barangsiapa bermaksud bepergian jauh (kemudian ditengah jalan) ia mengurungkan maksudnya dengan kembali pada daerah tempat tinggalnya atau daerah lain dengan tujuan iqamah (menempat disana) maka terputuslah sejak saat itu bepergiannya baik ia pulang ke rumahnya atau tidak karena niat yang memperkenankannya kemurahan (bagi musafir) telah terputus dan terputus pulalah bepergiannya sehingga tidak lagi diperkenankan baginya menjalani qashar shalat selama selama ia berada ditempat tinggalnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama fiqh tetapi menilik yang dapat diambil kefahaman dari pernyataan dalam kitab al-Haawy as-Shoghiir baginya msih boleh mengqashar dan ini jelas menyalahi apa yang telah ternukil, dan tidak perlu baginya mengqadhaishalat yang telah ia qashar atau jamak sebelum ia mengurungkan niat bepergiannya meskipun bepergian yang ia lakoni masih dalam jarak tempuh yang teramat pendek (asalkan sudah keluar dari batas desa)”.
Mughni al-Muhtaaj I/268

الرابع: دوام  السفر إلى عقد الثانية  وإن أقام  في أثنائها, ولايسترط وجود السفر عند عقد الأولى
"Syarat dari jama' taqdim ada VI adapun yang ke-IV adanya kelnjutan bepergian pd tujuan yang ke-II walaupun bermuqim pada pertengahan perjalanan. dan tdk adanya syarat adanya kepergian pda niat yang pertama"
(nihayatu az-zain hal: 156)



SHOLAT DHUHA


1.Niat Sholat sunah Dhuha.
أصلى سنة الضحى  ركعتين لله تعالى
Usholli sunnatad Dzuha rak’ataini lillahi ta’la_
Artinya : Aku berniat sholat Dhuha dua rakaat karena Alloh ta’la.

2. Kaifiah (tata cara) sholat.
            Sholat sunah Dhuha dilaksanakan pada waktu pagi mulai dari terbitnya mentari (beranjak -+ 1meter dari tempat terbitnya) sampai pada saat tergelincirnya matahari. Sholat sunah Dzuha paling sedikit dilaksanakan 2rakaat dan paling banyak 12rakaat.
            Setelah bacaan Al-Fatiha pada pelaksanaan sholat Dzuha, disunahkan membaca Surah As-Syams pada rakaat pertama dan Surah Ad-Dzuha pada rakaat ke-dua, apabila pelaksanaan lebih dari dua rakaat, maka pada rakaat pertama membaca Surah Al-Kafirun dan rakaat ke-dua membaca Surah Al-Ikhlas.

3. Doa yang dibaca ketika sholat Dhuha.
اللهم إنّ الضحاء ضحائك, والبهاء بهائك والجمال جمالك والقوّة قوّتك والقدرة قدرتك والعصمة عصمتك. اللهم إن كان رزقى في السماء فأنزله, وإن كان في الأرض فأخرجه, وإن كان معصر فيسّره , وإن كان حراما فطهّره , وإن كان بعيدا فقربه . بحقّ ضحائك وبهائك وجمالك وقوتك وقدرتك أتنى ما أتيت عبادك الصالحين.

Allohumma inna dzuha_a dhuha_uka, wal baha_a baha_uka wal jama_la jama_luka wal quwwata quwwatuka wal qudrota qudratuka wal ishmata ishmatuka. Allohumma in ka_na rizqi_ Fi_ ssama_i fa anzilhu,wa inka_na  fil ardzi fa  akhrijhu, wa inka_na mu’shiran fa yassirhu, wa inka_na hara_man fathohhirhu, wa inka bai’_dan  fa qorribhu. Bihaqqi dhuha_ika wa baha_ika wa jama_lika wa quwwatika wa qudratika a_tini_ ma a_taita min i’_badikas sholihin.

Artinya ;  “Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU dan kecantikan adalah kecantikan-MU dan keindahan adalah keindahan-MU  dan kekuatan adalah kekuatan-MU dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU dan perlindungan itu adalah perlindungan-MU.

Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah  Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah  dan jikalau sukar maka mudahkanlah  dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka dekatkanlah Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.