Blog Fikih Islam

Catatan Fikih, Ushul, dan Turats Pesantren

HIKAYAH ISTIGHFAR KUNCI SUKSES


Hasan Al-Bashri, salah seorang ulama tabiin, suatu ketika didatangi oleh seseorang yang mengadukan tentang daerahnya yang kering kerontang dan tidak mendapat hujan. Maka, ia berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah." Kemudian, datanglah pula seseorang mengadukan tentang kemiskinannya Ia pun berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah". Tak lama kemudian datang pula seseorang minta didoakan agar dikaruniai anak. Imam Hasan Al-Bashri pun menyuruhnya supaya beristighfar. Kemudian datang lagi yang lain mengadukan tentang kebunnya yang tandus, beliau pun memintanya supaya beristighfar pula.

Hal ini membuat para sahabatnya menjadi penasaran dengan jawaban yang beliau berikan dan menanyakannya mengapa semua perkara tadi solusinya hanya satu, yaitu istighfar? Beliau pun menjawab, "Saya tidak mengatakan semua itu secara asal-asalan. 
Tetapi, berdasarkan firman Allah dalam surat Nuh ayat 10-12.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ  وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا(12)

Artinya: Maka aku katakan kepada mereka; Mohonlah ampun kepada Robbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai".
(QS Nuh: 10-12)

Begitulah kejelian seorang ulama yang tidak memandang satu persoalan dari sisi kulitnya saja, melainkan tertuju pada akar persoalan sebagaimana yang dibimbing oleh wahyu ilahi. Bandingkan dengan orang-orang pada zaman sekarang yang hanya mengedepankan rasio saja dalam menganalisis masalah. Bila negerinya tertimpa bencana apakah itu kekeringan, kebakaran, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, hama tanaman, dan lain sebagainya mereka tidak segera berpikir bahwa semua itu tidak lain adalah akibat dari dosa-dosa yang dilakukannya.

Kerangka berpikir yang salah seperti inilah yang kemudian memunculkan kesalahan dalam mengambil solusi dari
bencana yang menimpa. Padahal, Allah telah berfirman
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (السورى: 30(
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)".
(QS As-Syuro: 30)
Akhirnya, mereka hanya mengandalkan kekuatan otak dan materi belaka dalam menyelesaikan persoalan, sementara istighfar dalam arti sebenarnya yaitu mengikhlaskan niat kepada Allah dan menghentikan perbuatan-perbuatan dosa, yang merupakan bagian asasi dari solusi permasalahan, tidak pernah tersentuh dalam pembicaraan apalagi sampai diamalkan. Kalau boleh dikatakan, hari ini kita adalah orang-orang yang melalaikan istighfar. Padahal, kalau melihat kondisi yang ada, sudah selayaknya kita lebih membutuhkan istighfar karena tingkat kemaksiatan hari ini sangat jauh berlipat ganda. Hari-hari kita senantiasa diisi dengan dosa.

Wallalohu a’lam..



SUARA DENGUNG PADA TELINGA


·        Apa yang terjadi ketika suara ngiiing pada telinga?
Dalam filosofi jawa dengung pada telinga, ada yang mengartikan akan ada hal yang besar telah terjadi atau akan terjadi. Ternyata setelah kami baca-baca kitab menemukan keterangan yang searah dengan filosofi jawa tersebut, Bahkan keterangan dalam kitab tersebut merujuk pada sebuah hadits Rosululloh SAW. ternyata setelah saya buka buka buku SOLUSI Problematika Aktual HUKUM ISLAM (Keputusan Mu’tamar, Munas, dan Kongres NU thun 1926-2004) Hal: 169 disana juga terdapat keterangan yang senada:
قال النبي صل الله عليه وسلم: إذا ظنّت أذن أحدكم فليذكرني وليصلّ عليّ وليقل ذكر الله من ذكرني بخير.
Sabda Rosululloh (semoga sholawat dan salam atasnya):  Ktika salah seorang dari kalian telinganya berdengung, maka hendaknya dia mengingatku (Rosululloh) dan membaca sholawat atasku serta berdoa: dhakarollohu man dzakaroni khoiron (Alloh akan mengingatkan yang mengingatku dengan kebaikan.
·        Imam Al-Manawi (semoga Alloh meridloi-nya)dalam kitab Azizi ‘ala jamiusshoghir, berkomentar tentang Hadits tersebut diatas:
قال المناوي فإن الأذن إنما تظنّ لمّــا ورد على الروح من الخبر الخير وهو أنّ المصطفى صل الله عليه وسلم قد ذكر ذالك الإنسان بخير في الملاء الأعلى في عالم الأرواح.
(االعزيز على جميع الصغير)
Al-Imam Al-Manawi (semoga ridlo Alloh atasnya) berkata: sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika terdengar berita baik ke-ruhh, bahwa Rosululloh (semoga sholawat dan salam atasnya) telah menyebutkan bahwa pemilik telinga tersebut dengan kebaikan diAl-Ma’la_ (alam ruh).
·        Kesimpulan; ketika terdengar suara ngiingg pada telinga disunahkan membaca sholawat dan doa:
ذكر الله من ذكرني بخير
Dhakarollohu man dzakaroni khoiron
Semoga bermanfaat...

  

PENYAKITKU TEMPAT MELEBUR DOSAKU


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله ربّ العالمين والصلاة والسلام علي سيدنا محمد صلي الله عليه وأله ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين.
قال الله تعالى في كتابه العزيز الحكيم : من يعمل سوءا يجزبه..... الأية (النساء :123)
Man ya’mal su_an yujza bihi.... A-Ayah  (Q,S Annisa’: 123)
Barang siapa mengerakan suatu amal keburukan, maka baginya balasan dari apa yang diperbuatnya. (al-qur’an).

حديثنا أبوا اليمــان الحكيم بن نافع أنا شعيب عن الزهري أخبرني عروة بن الزبير أن عائشة رضي الله عنهاقالت: قال رسول الله صلى الله عليه وأله وسلم: ما من مصيبة تصيب المسلم الّا كفار الله بها عنه, حتى الشوكت يشاكها
TSRXأخرخه البخاري من رقم:
Dalam hadits Riwat Imam Bukhori dijelaskan, bahwa St Aisyah RA berkata, bersabda Rosululloh SAW: Tidak ada suatu musibah yang menimpa seorang Muslim, kecuali.. Alloh Ta’ala melebur atasanya dosa-dosanya. Sehingga menimbulkan rasa rindu untuk ditimpa suatu musibah (HR Bukhori).

·       Penyakit
Secara pengetian, kita sangat faham dengan apa itu yang dinamakan penyakit, karena kita sebagaimana manusia semestinya yang tidak mungkin bisa dipungkiri pasti pernah merasakannya. Macam-macam  penyakit ada 2macam pertama; penyakit dhohir (penyakit badan) dan penyakit Hati, sebagaiman termaktub dalam kitabullh “fi_qulu_bihim Marodun fazadahumullohu marodo(QS Al-Baqoroh:10)_” dalam hati mereka terdapat penyakit hati lalu Alloh ta’ala menambahkan penyakit hati mereka (orang kafir)... (Al-Ayah). Akan tetapi kali ini kita hanya membahas tentang penyakit dhohir (penyakit badan) yang menimpa seorang muslim saja.

·       Penyakit seorang muslim adalah tempat melebur dosa-dosanya.
Firman Alloh ta’ala “Man ya’mal su_an yujza bihi”potongan (Q.S An-Nisa’:123) diatas, Al-Karmani mengomentarinya; ayat tersebut adalah Umum, maknanya setiap orang yang melakukan suatu amal buruk pasti hukum karma baginya. Kemudia Ibnu Munir berkata: Ayat tersebut maksudnya “bahwa setiap penyakit akan menggugurkan tiap-tiap dosa (kesalahan)” oleh karenanya sebagai seorang mukmin wajib percaya bahwa semua penyakit yang menimpa seorang hamba, semua itu tidak jauh dari titahnya.
Pendapat Ibnu Munir tersebut diatas juga merujuk pada riwayat dari sahabat Hasan dan Zaid RodliAlloh anhuma yang dinuqil oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani dalam sarah Hadits Bukhori, bahwa QS Annisa’:123  tersebut diatas dikhususkan pada pembahasan “kafarat dari kesalahan (dosa)” kemudian dikuatkan oleh hadits tersebut tersebut diatas.
Lebih jelasnya lagi merujuk pada “asbabun nuzul ayat yang saya nuqil diatas”(QS.An-nisa’:123).  Dari Riwayat Imam Ahmad dan dinyatakan riwayat yang Shohih Oleh Ibnu Hibban yang mengambil riwayat dari Ubaidah Bin Amir dari A’isyah RodliAllohu anha  “ada seorang lelaki, ketika membaca ayat (man ya’mal su_an yujza bihi) lalu berkata pada dirinya sendiri “sesungguhnya kita akan dibalas dari perbuatan kita, aduh sungguh kerusakan bagi diri kita.....! kemudian datang Rosululloh sraya bersabda :Na’am...ya benar, orang yang melakukan amal kemaksiatan akan dibalas didunia dengan perkata yang menimpanya (sebagai kafarat peleburan dosanya).
Dalam riwayat Imam Ahmad yang lain dan juga dishohihkan Oleh Ibnu Hibban dikatakan:
Suatu ketika Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Rosululloh : Ya..... Rosululloh bagaimana mengamalkan  ayat ini
من يعمل سوءا يجزبه..... الأية?”
Artinya; Barang siapa melakukan amal kesalahan akan mendapatkan balasan dari perbuatannya.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ وَأَصْحَابُكَ المُؤْمِنُونَ ، فَتُجْزَوْنَ بِهِ فيِ الدُّنْيَا ، حَتَّى تَلْقُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَتْ لَكُمْ ذُنُوبٌ ، وَأَمَّا الْآخَرُونَ فَيُؤخَّرُ ذَلِكَ لَهُمْ حَتَّى يُجْزَوْا بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
Kemudian Rosululloh SAW bersabda: Engkau wahai Abu Bakar... dan saudara-saudaramu yang beriman (kesalahnnya) dibalas didunia, sehingga ketika sudah bertemu Alloh ta’ala kalian semua sudah tidak terbebani dengan dosa kalian. Adapun yang lain (orang yang tdk beriman) dibalas (dengan siksaan) diakhirat.
KESIMPULAN
·       Tetep sabar dalam musibah yang diberikan oleh Alloh ta’ala.
·       Dalam keadaan sakit tetep sunah untuk berobat kpda dokter.
·       Selalu menjaga husnudzon kepada Alloh ta’ala.

BERSIWAK/GOSOK GIGI


Siwakan adalah membersihkan gigi dari kotorang yang kemungkinan besar bisa mengakibatkan bau mulut/kerusakan pada lapisan gigi.
Al-Khotib As-sarbini dalam kitabnya Bujairomi ‘alal khotib menjelaskan: siwakan disunahkan pada acap kali melakukan Ibadah, dan diutamakan menggunakan kayu arok (kayu siwak). Jika tdk ada, bisa menggunakan sikat dengan pasta gigi ataupun dengan tangan yang disertakan pada awal kali berwudlu.
Tiga poin dalam ha ini :
• Ketika bau mulut dari azm yaitu baumulut yang diakibatkan dari berpuasa/ makan makanan yang bisa mengakibatkan bau mulut spt jengkol pete… dll ,akan tetapi perlu diingat sesudah waktu zawal bagi puasa wajib dimakruhkan.
• Ketika bangun dari tidur.
Berdasarkan hadits Rosululloh SAW yang diriwayatkan Imam Bukhori I/356,dan Imam muslim I/220:
كان النبي صلى الله عليه وسلّم إذا قام من النوم يشوص فاه

Rosululloh SAW ketika bangun dari tidurnya membasuh mulutnya(maksudnya dengan bersiwakan).
• Ketika akan melaksanakan Sholat, baik sholat fardu atupun sholat sunah.
Bahkan ada penegasan sebuah riwayat dari hadits shohih ayng diriwayatkan Imam Bukhori (II/374) dan Imam Muslim I/220 pada bab thoharoh.
لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Rosululloh SAW bersabda: jikalaw saya tidak khawatir akan membebankan umatku, pasti akan aku perintahkan kepadanya untuk bersiwakan pada tiap kali sholat.

KEUTAMAAN YG BERHUBUNGAN DENGAN SIWAKAN
• 2(dua)rakaat,Sholat yang dikerjakan setelah siwakan/gosok gigi keutamaannya sama dengan 70rakaat tanpa siwakan.
Hal ini berdasarkan sebuah riwayat hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ركعتان بسواك أفضل من سبعين ركعتا بلاسواك
Rosululloh SAW bersabda: dua rakaat dalam sholat yang dilakukan dengan siwak(sebelumnya) lebih utama dibandingkan 70rakaat tanpa siwakan(sebelumnya).
• Disunahkan mendahulukan anggota mulut bagian kanan lalu kiri, sebagaiman yang dilakukan Rosulullloh SAW :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يحبّ التيامن مالستطاع في شأنه من كله في طهمره وترجله وتنعله وسواكه
Sesungguhnya Rosululloh SAW suka mendahulukan anggota badan yang kanan,untuk melakukan apa yang beliau kehendaki, dari bersih-bersih, menata rambut, memakai sandal dan bersiwak.
• Menurut hikayah dari Imam Al-Khotib, pendapat Abu Dawud siwakan sebelum sholat hukumnya wajib, akan tetapi meninggalkan siwakan tetep sah sholatnya.Ibnu Ishaq meriwayatkan pendapat Imam Rohawiyah wajib siwakan sebelum sholat, apabila sengaja meninggalkan siwakan sebelum sholat, maka batal sholatnya, Imam nawawi dalam sarah majmu’ mengomentari pendapat Imam Rohawiyah yang dinuqil Ibnu Ishaq : penukilan terhadap pendapat ibnu Ishaq tersebut tidak dibenarkan keberadannya dan riwayat tersebut tidak benar. (Bujairomi ‘alal khotib I/173)
• Bagi orang yang berpuasa disunahkan untuk meninggalkan siwakan setelah waktu zawal yaitu ketika matahari sudah condong ke-arah barat, kurang lebih sebelum sedikit waktu sholat dzuhur. Sebagaiman riwayat sebuah hadits lukhufu famish shoimi athibu ‘indalloh min rihil misk (bau mulutnya orang yang sdng puasa indalloh lebih wangi dari wanginya minyak misk).
(H.R Imam Bukhori: I/118 dan Imam Muslim:II/807)
wallohu a'lam..

MANDI-MANDI YANG DISUNAHKAN


Assalamu’laikum warohmah..

Mandi yang disunahkan ada 17 (ket-Bujairomi ‘alal khotib).
1.    Mandi jum’ah, meslkipun tdk wajib baginya sholat jum’ah seperti perempuan dan ‘abd (budak).
Berdasarkan Hadits Nabi SAW:
إذا جاء أحدكم الجمعة فليغسل
Ketika datang pada kalian semua hari jum’ah, maka (disunahkan) mandi jum’ah.
(HR.Bukhiri II/356, Muslim II/579/846).
2.    Mandi hari raya ‘Idul Fitri.
3.    Mandi ghari raya ‘Idul Adha.
Disunahkan bagi semua muslim termasuk perempuan yang Haid & Nifas, meskipun tdk bisa menghadiri sholat ‘aid, dikarenakan 2(dua)hari raya tersebut yaumu zinah  (hari berhias bagi semua muslim).
4.    Mandi ketika akan menghadiri sholat Istisqo’(sholat memohon hujan) dikarenakan akan berkumpul dengan orang lain.
5.    Mandi akan melaksankan sholat khusuf (gerhana bulan).
6.    Mandi akan melaksankan sholat kusuf (gerhana matahari).
7.    Mandi setelah memandikan mayit,meskipun bagi orang yang menanggung hadats besar (seperti perempuan Haid/ nifas) atau memandikan yang dikategorikan ma’siat hukumya, spt memandikan perempuan ajnabi(bukan muhrim) ataupun memandikan orang yang mati syahid.
Alasan dari memandikan maksiat disini dikarenakan makruh hukumnya memandikan perempuan ajnabi (bagi laki-laki),  dan haram memandikan orang yang mati syahid, akan tetapi menurut Imam Imam Ashhobaroi memandikan perempuan ajnabi/orang yang mati syahid tdk disunahkan.
(buka Bujairomi ’alal khotib juz:I/372).
Kesunahan ini berdasarkan hadits nabi:
من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوضاء.
Barang siapa memandikan jenazah, maka (disunahkan) mandi dan barang siapa membawa (menggotong) mayat, maka (disunahkan) wudlu.
(H.R Abu Dawud III/551/ At-tirmidzi III/118, Ibnu Majah I/480)
8.    Mandi ketika masuk Islam meskipun bagi murtad (keluar dari Islam lalu Islam kembali).
NB: waktu mandi setelah masuk memenuhi persyaratan masuk Islam (membaca syahadatain) dan bukan ketika baru mempunyai akan masuk Islam.
9.    Mandi ketika sembuh dari majnun (gila).
10.   Mandi ketika sembuh dari penyakit ayan, meskipun Cuma sebentar.
11.  Mandi ketika akan Ihrom, baik bagi jemaah Haji/Umroh.
12.  Mandi ketika akan memasuki daerah makkah Al-Mukarromah.
13.    Mandi ketika akan wuquf di Arofah bagi jemaah haji/umroh.
14.    Mandi ketika akan mabit (menginap) dimuzdalifah.
15.     Mandi ketika akan melempar jumroh. Pelaksanaannya pada tiap hari pada hari tasyriq(tgl: 11/12/13Dzul hijah)
Lebih utama pekaksanaannya setelah zawal (matahari sudah condong ke-arah barat/ sedikit senbelum wakhtu sholat dzuhur) dan pada fajar (pagi).
قال الخطيتب: والأفضل كون الغسل بعد الزوال ويدخل وقته بالفجر  اهــــ
·       Al-Khotib As-Sarbini dalam kitabnya Bujairomi ‘alal khotib berkata: dan diutamkan adanya mandi (sunah) setelah waktu zawal dan pada waktu fajar(pagi).

16.  Mandi ketika akan thowaf Ifadhoh.
17.    Mandi ketika akan thowaf  wadha’.

NB: Dari sekian kesunahan mandi diatas, tentunya sudah menjadi kebiasaan kita semua ketika acap kali melakukan sederetan Ibadah-ibadah diatas. Dan perlu diingant tdk mendapat kesunahan jika tdk diniatkan Itba’ sunah Rosul dan memenuhi kesunahan mandi yaitu membasahi semua anggota badan sebahgaimana mandi wajib pada umumnya.
Wallohu a’lam..
Semoga manfaat...
Wassalamu a’laikum warohmah..

NGAJI GHOYAH WATAQRIB

Bab Sholat Bagian ke-II
(فصل) وشرائط وجوب الصلاة ثلاثة أشياء الإسلام والبلوغ والعقل وهو حد التكليف. والصلوات المسنونات خمس العيدان والكسوفان والاستسقاء والسنن التابعة للفرائض سبع عشرة ركعة ركعتا الفجر وأربع قبل الظهر وركعتان بعده وأربع قبل العصر وركعتان بعد المغرب وثلاث بعد العشاء يوتر بواحدة منهن وثلاث نوافل مؤكدات صلاة الليل وصلاة الضحى والتراويح.
(Fasal)
Syarat-syarat dari wajibnya sholat ada 3macam yaitu : (1) Islam. (2) Baligh. (3) Berakal.
Adapun sholat-sholat yang disunahkan ada 5macam: (1) Dua sholat ’aid : Sholat ‘Idul Fitri dan sholat ‘Idul Adha. (2) Sholat Gerhana yaitu Gerhana Matahari dan Bulan. (3) Sholat Istisqo’. (4) Sholat yang waktunya sebelum dan sesudah Sholat Fardu lima waktu, jumlah dari rakaat keseluruhan ada 17rakaat, yaitu dua rakaat sebelum sholat subuh, empat rakaat sebelum sholat dzuhur, dua rakaat sesudah sholat dzuhur, empat rakaat sebelum sholat ashar, dua rakat setelah sholat maghrib, tiga rakaat sesudah isya’yang mana, satu rakaatnya sholat witir.
Sedangkan sholat sunah muakat ada 3macam, yaitu: (1) Sholat tahajut, (2) Sholat Dzuha, (3) sholat tarawih.

KETERANGAN.
  1. Seorang kafir tidak diwajibkan melaksanakan sholat fardu lima waktu, karena tidak terkena taklif hukum islam akan tetapi diakhirat mendapatkan siksa kefasidan ke-imanannya.
  2. Jika seorang kafir masuk islam tidak diwajibkan menggodho sholat yang ditingalkan selama dia baligh sampai dia masuk islam.
  3. Orang yang murtad (pernah masuk islam kemudian pindah agama lain) tetap diwajibkan mengqodho sholat yang ditinggalkan selama dia keluar dari agama Islam.
  4. Orang yang hilang Akal “majnun” tidak diwajibkan sholat, termasuk yang disebabkan kemaksiatan minum-minuman keras.
  5. Orang yang bodoh dari kecil dikarenakan tuna netra atau tuna rungu sehingga mengakibatkan tidak mengetahui hukum syar’i tidak diwajibkan sholat, dan tidak diwajibkan mengqodho sholat yang ditinggalkan ketika suatu saat paham agama dan mengerti hukum syar’i.
  6. Wanita yang Haid dan Nifas haram melaksanakan sholat dan tidak diwajibkan menggodho sholat fardu yang ditinggalkan selama haid dan Nifas.
  7. Wanita yang Istihadloh tetep wajib melaksanakan sholat.
  8. Sholat istisqo’ adalah sholat memohon hujan.
wallohu a'lam

JAMA' TAQDIM YANG DIURUNGKAN KEPERGIANNYA


Sholat Qashar (atau jamak) yang telah ia jalani setelah ia keluar dari batas desanya sebelum ia mengurungkan bepergian tidak wajib ia qadhai.
( ومن قصد سفرا طويلا فسار ثم نوى ) وهو مستقل ماكث ( رجوعا ) عن مقصده إلى وطنه أو غيره للإقامة ( انقطع ) سفره سواء أرجع أم لا لأن النية التي استفاد بها الترخص قد انقطعت وانتهى سفره فلا يقصر ما دام في ذلك المنزل كما جزموا به لكن مفهوم كلام الحاوي الصغير ومن تبعه أنه 
يقصر وهو خلاف المنقول ولا يقضي ما قصره أو جمعه قبل هذه النية وإن قصرت المسافة قبلها

“Barangsiapa bermaksud bepergian jauh (kemudian ditengah jalan) ia mengurungkan maksudnya dengan kembali pada daerah tempat tinggalnya atau daerah lain dengan tujuan iqamah (menempat disana) maka terputuslah sejak saat itu bepergiannya baik ia pulang ke rumahnya atau tidak karena niat yang memperkenankannya kemurahan (bagi musafir) telah terputus dan terputus pulalah bepergiannya sehingga tidak lagi diperkenankan baginya menjalani qashar shalat selama selama ia berada ditempat tinggalnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama fiqh tetapi menilik yang dapat diambil kefahaman dari pernyataan dalam kitab al-Haawy as-Shoghiir baginya msih boleh mengqashar dan ini jelas menyalahi apa yang telah ternukil, dan tidak perlu baginya mengqadhaishalat yang telah ia qashar atau jamak sebelum ia mengurungkan niat bepergiannya meskipun bepergian yang ia lakoni masih dalam jarak tempuh yang teramat pendek (asalkan sudah keluar dari batas desa)”.
Mughni al-Muhtaaj I/268

الرابع: دوام  السفر إلى عقد الثانية  وإن أقام  في أثنائها, ولايسترط وجود السفر عند عقد الأولى
"Syarat dari jama' taqdim ada VI adapun yang ke-IV adanya kelnjutan bepergian pd tujuan yang ke-II walaupun bermuqim pada pertengahan perjalanan. dan tdk adanya syarat adanya kepergian pda niat yang pertama"
(nihayatu az-zain hal: 156)



SHOLAT DHUHA


1.Niat Sholat sunah Dhuha.
أصلى سنة الضحى  ركعتين لله تعالى
Usholli sunnatad Dzuha rak’ataini lillahi ta’la_
Artinya : Aku berniat sholat Dhuha dua rakaat karena Alloh ta’la.

2. Kaifiah (tata cara) sholat.
            Sholat sunah Dhuha dilaksanakan pada waktu pagi mulai dari terbitnya mentari (beranjak -+ 1meter dari tempat terbitnya) sampai pada saat tergelincirnya matahari. Sholat sunah Dzuha paling sedikit dilaksanakan 2rakaat dan paling banyak 12rakaat.
            Setelah bacaan Al-Fatiha pada pelaksanaan sholat Dzuha, disunahkan membaca Surah As-Syams pada rakaat pertama dan Surah Ad-Dzuha pada rakaat ke-dua, apabila pelaksanaan lebih dari dua rakaat, maka pada rakaat pertama membaca Surah Al-Kafirun dan rakaat ke-dua membaca Surah Al-Ikhlas.

3. Doa yang dibaca ketika sholat Dhuha.
اللهم إنّ الضحاء ضحائك, والبهاء بهائك والجمال جمالك والقوّة قوّتك والقدرة قدرتك والعصمة عصمتك. اللهم إن كان رزقى في السماء فأنزله, وإن كان في الأرض فأخرجه, وإن كان معصر فيسّره , وإن كان حراما فطهّره , وإن كان بعيدا فقربه . بحقّ ضحائك وبهائك وجمالك وقوتك وقدرتك أتنى ما أتيت عبادك الصالحين.

Allohumma inna dzuha_a dhuha_uka, wal baha_a baha_uka wal jama_la jama_luka wal quwwata quwwatuka wal qudrota qudratuka wal ishmata ishmatuka. Allohumma in ka_na rizqi_ Fi_ ssama_i fa anzilhu,wa inka_na  fil ardzi fa  akhrijhu, wa inka_na mu’shiran fa yassirhu, wa inka_na hara_man fathohhirhu, wa inka bai’_dan  fa qorribhu. Bihaqqi dhuha_ika wa baha_ika wa jama_lika wa quwwatika wa qudratika a_tini_ ma a_taita min i’_badikas sholihin.

Artinya ;  “Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU dan kecantikan adalah kecantikan-MU dan keindahan adalah keindahan-MU  dan kekuatan adalah kekuatan-MU dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU dan perlindungan itu adalah perlindungan-MU.

Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah  Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah  dan jikalau sukar maka mudahkanlah  dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka dekatkanlah Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.

SHOLAT TAHIYATUL MASJID


1.    Niat sholat sunah tahiyatul masjid.
اصلى سنة تحية المسجد ركعتين لله تعالى
Usholli sunnatan tahiyyatal masjidi rok’ataini lillahi ta’la.
Artinya ; Aku berniat sholat tahitatul masjid karena Alloh ta’ala.

2.    Kaifiyah (tata cara) sholat sunah tahiyatul masjid.
Sholat sunah Tahiyatul masjid yang dimaksud bukan mengagungkan masjid, akan tetapi  mengagungkan Alloh ta’ala pemilik Masjid. Adapun pelaksanaannya dapat dilaksanakan sebagaimana biasaya sholat fardu lima waktu.
عن نافع عن إبن عمر رضي الله عنهما,عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من دخل الجامع يوم الجمعة فصلى أربع كعات قبل صلاة الجمعة يقرأ فى كلّ ركعة الحمد لله, وقل هو الله أحد خمسين مرة لم يمت حتى يرى مقعده من الجنّة ,أو يرى له.
إحياء  علوم الدين, ج:1,ص:  1992 دار النشر

Artinya : Dari Nafi’ dari Ibn Umar RA dari Rosululloh SAW berkata: barang siapa memasuki masjid pada hari jum’ah kemudian sholat empat rakaat sebelum sholat jum’at yang pada tiap-tiap rakaat membaca Al-Hamdu (surah Al-Fatihah) dan qul huwallahu ahad ( surah Al-Ikhlas)50X maka baginya tidak akan mati sebelum mengetahui bahwa tempatnya adalah surga atau mengetahui syurga.
(Ihya’ Ululumuddin, juz:1 hal:1992 cetakan Darun nasyr)